Rabu, 22 Februari 2012

The Junas Monkey


STEFAN “Arti Sahabat” William punya band, lho! Namanya The Junas Monkey. Selain Stefan yang mengisi vokal, ada Ajun Perwira yang memainkan gitar, dan Aditya Suryo sang penggebuk drum. Singel mereka yang sudah dilempar ke pasaran berjudul “Jadian”. Buah karya Fajar “Element”. Lagunya berirama pop yang terdengar renyah di telinga.
“Monyet-monyet” energik
Ketiga anggota The Junas Monkey punya latar belakang sama. Pertama, sama-sama berangkat dari dunia akting, khususnya sinetron. “Adit main di Kupinang Kau Dengan Bismillah. Ajun lagi syuting film PJP (Poconggg Juga Pocong),” buka Stefan. Sementara cowok yang melulu digosipkan cinlok dengan Yuki Kato ini juga lagi sibuk syuting stripping Gol-Gol Fatimah.

 Kedua, tiga jejaka ganteng ini berada dalam naungan manajemen artis yang sama, Bentuk Management. Pihak yang hakikatnya “menjodohkan” mereka ke dalam satu band. “Bentuk tahu kita punya minat yang sama di bidang musik,” Ajun mulai bercerita. “Aku sendiri mulanya mau ajak teman-teman band di Bali. Mengajukan proposal ke manajemen biar bisa bantu kita eksis (sebagai band ibukota). Tapi, disarankannya main band bareng teman satu manajemen,” lanjutnya.
Maka terbentuklah The Junas Monkey sekitar 6 bulan silam. Stefan dan Adit dipilih untuk menemani Ajun bermain band. “Manajemen tahu aku bisa main drum,” Adit bersuara. Cowok berusia 23 tahun sekaligus tertua di band lantas mengakui ide nama Junas datang dari dirinya. “Junas itu aku yang bikin. Kependekan dari nama kita bertiga. Ajun-Adit-Stefan. Kalau Monkey dari manajemen,” ungkapnya.
Lantas apa artinya Monkey (monyet)? Sambil berseloroh, Ajun berceloteh tentang filosofis monyet yang sangat dekat dengan dunia pertunjukkan yang menghibur, topeng monyet. Hahaha! Tapi, tentu saja bukan itu makna kata Monkey pada nama band. Dengan lebih serius, cowok berbadan tegap itu menyebut tentang keenergikan khas anak muda yang mereka miliki. Enggak bisa diam deh kalau sudah kumpul bertiga. “Malah kita bisa dance!” aku Ajun yang diamini sambil malu-malu Adit dan Stefan.
Sama-sama pemain sinetron, ganteng, dan bisa menari. Kami iseng bertanya, kenapa tidak membuat boy band saja? Spontan Adit menolak kemungkinan tersebut dengan raut mukanya yang mendadak berubah kecut. “Enggak, lah! Buat apa jadi followers? Lagian, boy band bukan kita banget,” sergah Adit yang memperoleh kemampuan bermain drum dari kakaknya.
Ingin memainkan karya sendiri
Salah satu keunikan dari The Junas Monkey yang sama-sama pemain sinetron aktif, adalah cara mereka meluangkan waktu untuk latihan band. Antara Stefan dan Adit beda lokasi syuting. Pun demikian Ajun. Jadi ketiganya sepakat saling menyambangi lokasi syuting. Siapa yang duluan selesai syuting, bisa mendatangi anggota yang masih syuting. Setelah ketemu waktu bertiga, mereka mencari studio musik mana saja, sedapatnya, untuk latihan. “Dalam satu 



Kamis, 02 Februari 2012

TEMAN


Setelah kita sudah saling mengisi
jiwa suci ini.…………..
dengan rasa kasih nan murni
dengan sorotan mata putih
dengan gita sukma indah
dengan ilmu bermanfaat
dengan segala keikhlasan
ada yang ingin aku sampaikan buatmu
dari jantungku yang paling dalam
yang selalu berdetak keras
mengikuti rotasi bumi yang begitu cepat
selamat tinggal sahabat
kita bertemu lagi dilain waktu
kita jangan bersedih untuk selamanya
namun bila tak dapat menahan tangismu
biarkan airmata jatuh ke tanah
menguap terbang mengantarkan aku pulang.

S A H A B A T


Sahabatku adalah tetesan embun pagi
yang jatuh membasahi kegersangan hati
hingga mampu menyuburkan seluruh taman sanubari
dalam kesejukan
Sahabatku adalah bintang gemintang malam di angkasa raya
yang menemani kesendirian rembulan yang berduka
hingga mampu menerangi gulita semesta
dalam kebersamaan
Sahabatku adalah pohon rindang dengan seribu dahan
yang memayungi dari terik matahari yang tak tertahankan
hingga mampu memberikan keteduhan
dalam kedamaian
Wahai angin pengembara
kabarkanlah kepadaku tentang dirinya
Sahabatku adalah kumpulan mata air dari telaga suci
yang jernih mengalir tiada henti
hingga mampu menghapuskan rasa dahaga diri
dalam kesegaran
Sahabatku adalah derasnya hujan yang turun
yang menyirami setiap jengkal bumi yang berdebu menahun
hingga mampu membersihkan mahkota bunga dan dedaun
dalam kesucian
Sahabatku adalah untaian intan permata
yang berkilau indah sebagai anugerah tiada tara
hingga mampu menebar pesona jiwa
dalam keindahan
Wahai burung duta suara
ceritakanlah kepadaku tentang kehadirannya
Dan ini akhir dari apa yang kita sebut puisi persahabatan,

BEST Friend Foreva



Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan
dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan
mempunyai nilai yang indah.
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi
persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan
bertumbuh bersama karenanya…
Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi
membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkanbesi,
demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatan
diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti,
diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak,
namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan
dengan tujuan kebencian.Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan
untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya
ia memberanikan diri menegur apa adanya.
Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman,
tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan
dengan tujuan sahabatnya mau berubah.
Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha
pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita
membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi
mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih
dari orang lain, tetapi justru ia beriinisiatif memberikan
dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.
Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya,
karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.
Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati,
namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya.
Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun
ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.

*SAHABAT SEJATI*


Angan hidupku melayang
Disaat aku mengingatmu
Banyak kata yang tak sempat kuucap
Berlalu cepat kau tinggalkan aku
Tinggalkan semua cerita
Yang layak kukenang
Wahai sahabat .....
Kurindu canda tawamu

Namun .........

Semua itu hanyalah sejuta mimpi
Kerapuhan hatiku, terjamah sudah
Saat kau kembali kepadaNya
Bersama dua cahaya yang menyertaimu
Tuk slamanya hingga akhir hayatku
Kau ada di hatiku ......Sahabat.

By : Yulie Praztiks

Senin, 23 Januari 2012

Keeper DOG


Sepasang suami-istri yg sudah dikaruniai
seorang anak berumur 1 thn hidup dengan
bahagia. Mereka memelihara seekor anjing yg begitu
setia. Sejak dari pacaran sampai sdh dikaruniai anak, anjing ini telah menjadi bagian dalam
hidup mereka.
Peliharaan, teman bermain, penjaga sekaligus
pelindung keluarga.
Merekapun sangat menyayangi dan
mempercayai anjing ini. Suatu saat kedua suami istri ini keluar rumah
dan maninggalkan anak mereka bersama
anjing peliharaannya. Namun mereka lupa
memberi makan anjing tersebut.
Saat mereka pulang, mereka dikejutkan
dengan tetesan-tetesan darah yg berserahkan dilantai.
Kaget, takut dan khawatir bercampur aduk
dalam benak mereka.
Merekapun langsung berlari menuju kamar.
Didepan pintu kamar, duduk anjing
peliharaanitu dengan mulut yng masih meneteskan darah segar.
Histeris, kedua suami-istri berteriak.
Siistri terduduk lemas dengan isak tangis,
sedangkan sang suami langsung mengambil
kursi yg ada diruangan, dan
menghantamkanya bertubi-tubi kekepala anjing tersebut.
Sianjing seolah pasrah menerima nasibnya
tanpa berusaha menghindar sampai akhirnya
mati.
Dengan perasaan hancur dan tangis yg
semakin menjadi, kedua suami istri itu pun berpelukan. Dalam hati mereka tidak
menyangka telah kehilangan sang buah hati
dan anjing peliharaan bersamaan.
Dengan langkah lunglai, keduanya memasuki
kamar. Dan betapa kagetnya mereka saat
melihat anak mereka tertidur pulas diatas ranjang, sedangkan disamping ranjang
tergeletak seekor ular yg sudah mati
berlumuran darah.
Mereka baru sadar ternyata…
anjing peliharaan itu telah melindungi anak mereka dari ancaman siular. Ingatlah janganlah ceroboh dalam bertindak karena penyesalan salalu datang terakhir dan semua sudah berakhir…

HACHIKO DOG STORY


Kisah hidup
Lahir 10 November 1923 dari induk bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Ōshinai-go, namanya sewaktu kecil adalah Hachi. Pemiliknya adalah keluarga Giichi Saitō dari kota Ōdate, Prefektur Akita. Lewat seorang perantara, Hachi dipungut oleh keluarga Ueno yang ingin memelihara anjing jenis Akita Inu. Ia dimasukkan ke dalam anyaman jerami tempat beras sebelum diangkut dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Ōdate, 14 Januari 1924. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 jam, Hachi sampai di Stasiun Ueno, Tokyo.
Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburō Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berusia 53 tahun, sedangkan istrinya, Yae berusia 39 tahun. Profesor Ueno adalah pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno pernah beberapa kali memelihara anjing Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Di rumah keluarga Ueno yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan John. Sekarang, lokasi bekas rumah keluarga Ueno diperkirakan di dekat gedung Tokyo Department Store sekarang.
Ketika Profesor Ueno berangkat bekerja, Hachi selalu mengantar kepergian majikannya di pintu rumah atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari, bersama S dan John, Hachi kadang-kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Di petang hari, Hachi kembali datang ke stasiun untuk menjemput.
Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggui majikannya yang tak kunjung pulang, dan tidak mau makan selama 3 hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari 25 Mei 1925. Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah meninggal. Ditemani John dan S, ia pergi juga ke stasiun untuk menjemput majikannya.
Nasib malang ikut menimpa Hachi karena Yae harus meninggalkan rumah almarhum Profesor Ueno. Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan John dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memiliki toko kimono di kawasan Nihonbashi. Namun cara Hachi meloncat-loncat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan di rumah seorang kerabat Yae di Asakusa. Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya, Hachi dititipkan ke rumah putri angkat Profesor Ueno di Setayaga. Namun Hachi suka bermain di ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.
Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluarga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor Ueno, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya.
Pada tahun 1932, kisah Hachi menunggu majikan di stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saitō dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di stasiun, Saitō menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul Itoshiya rōken monogatari ("Kisah Anjing Tua yang Tercinta"). Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang di sekitar Stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran (sayang) ditambahkan di belakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachikō.
Sekitar tahun 1933, kenalan Saitō, seorang pematung bernama Teru Andō tersentuh dengan kisah Hachikō. Andō ingin membuat patung Hachikō. Setiap hari, Hachikō dibawa berkunjung ke studio milik Andō untuk berpose sebagai model. Andō berusaha mendahului laki-laki berumur yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachikō. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachikō untuk keuntungan pribadi. Pada bulan Januari 1934, Andō selesai menulis proposal untuk mendirikan patung Hachikō, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 Maret 1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachikō.
Patung perunggu Hachikō akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada bulan April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachikō bersama sekitar 300 hadirin. Andō juga membuat patung lain Hachikō yang sedang bertiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kōjun.
Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachikō, 13 tahun, ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachikō biasanya tidak pernah pergi ke sana. Berdasarkan otopsi diketahui penyebab kematiannya adalah filariasis.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a9/Hachiko-hakusei.jpg/220px-Hachiko-hakusei.jpg
http://bits.wikimedia.org/skins-1.18/common/images/magnify-clip.png
Opset tubuh Hachikō di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Tokyo
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/24/Grave_of_Hidesaburo_Ueno_and_monument_of_Hachiko%2C_in_the_Aoyama_Cemetery.jpg/220px-Grave_of_Hidesaburo_Ueno_and_monument_of_Hachiko%2C_in_the_Aoyama_Cemetery.jpg
http://bits.wikimedia.org/skins-1.18/common/images/magnify-clip.png
Tempat pemakaman Profesor Ueno dan Hachikō
Upacara perpisahan dengan Hachikō dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda almarhum Profesor Ueno, pasangan suami istri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myōyū-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachikō berlangsung seperti layaknya upacara pemakaman manusia. Hachikō dimakamkan di samping makam Profesor Ueno di Pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachikō diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/e/e8/Hachiko_20040803.jpg/220px-Hachiko_20040803.jpg
http://bits.wikimedia.org/skins-1.18/common/images/magnify-clip.png
Patung Hachikō di depan Stasiun Ōdate
Pada 8 Juli 1935, patung Hachikō didirikan di kota kelahiran Hachikō di Ōdate. tepatnya di depan Stasiun Ōdate. Patung tersebut dibuat serupa dengan patung Hachikō di Shibuya. Dua tahun berikutnya (1937), kisah Hachikō dimasukkan ke dalam buku pendidikan moral untuk murid kelas 2 sekolah rakyat di Jepang. Judulnya adalah On o wasureruna (Balas Budi Jangan Dilupakan).
Pada tahun 1944, di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, patung perunggu Hachikō ikut dilebur untuk keperluan perang. Patung pengganti yang sekarang berada di Shibuya adalah patung yang selesai dibuat bulan Agustus 1948. Patung tersebut merupakan karya pematung Takeshi Andō, anak laki-laki Teru Andō.
Pintu keluar Stasiun JR Shibuya yang berdekatan dengan patung Hachikō disebut Pintu Keluar Hachikō. Sewaktu didirikan kembali tahun 1948, patung Hachikō diletakkan di bagian tengah halaman stasiun menghadap ke utara. Namun setelah dilakukan proyek perluasan halaman stasiun pada bulan Mei 1989, patung Hachikō dipindah ke tempatnya yang sekarang dan menghadap ke timur.
Film Hachikō Monogatari karya sutradara Seijirō Kōyama mulai diputar di Jepang, Oktober 1987. Pada bulan berikutnya diresmikan patung Hachikō di kota kelahirannya, Ōdate. Monumen peringatan ulang tahun Hachikō ke-80 didirikan 12 Oktober 2003 di lokasi rumah kelahiran Hachikō di Ōdate. Sebuah drama spesial tentang Hachikō ditayangkan jaringan televisi Nippon Television pada tahun 2006. Drama sepanjang dua jam tersebut diberi judul Densetsu no Akitaken Hachi (Legenda Hachi si Anjing Akita). Pada tahun 2009 film Hachiko: A Dog's Story[1] karya sutradara Lasse Hallström mulai diputar dan dibintangi oleh Richard Gere dan Joan Allen.